PERJUANGAN PERGERAKKAN KEMERDEKAAN RI




Kronik Seputar Proklamasi
Menjelang Proklamasi Oleh Alwi Shahab
Tanggal 6 Agustus 1945 pukul 08.15, bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima, menyebabkan lebih 70 ribu orang dari kota yang berpenduduk 350 ribu jiwa tewas seketika. Tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan ke Nagasaki. Sepertiga kota itu hancur dan tidak kurang 75 ribu orang tewas. Kaisar Hirohito menganggap Jepang sudah tidak mungkin lagi meneruskan peperangan dan kemudian memaklumkan kekalahannya --menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Menyerahnya Jepang hampir tidak diketahui rakyat di Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, rakyat buta terhadap berita-berita luar negeri. Semua radio disegel. Mereka yang ketahuan mendengarkan siaran radio musuh sangat besar risikonya: ditangkap Kempetai (polisi milter Jepang) dan dituduh mata-mata musuh. Tuduhan yang bisa membawa kematian orang bersangkutan.

Mengingat banyak generasi sekarang yang tidak tahu kehidupan saat itu, baiklah kita kutip catatan dari seorang pimpinan Barisan Pelopor (Korps Pionir) tentang situasi akhir 1944. ''Setiap hari tampak hilir mudik mayat-mayat berjalan (tinggal kulit pembungkus tulang). Tubuh mayit berjalan itu penuh kutu di bajunya yang compang-camping. Baju yang terbuat dari bahan karung goni, tali rami, atau karet. Mayit-mayit manusia itu ada di mana-mana, di lubang perlindungan, di kuburan Cina, juga di tempat-tempat pembuangan sampah. Tergolek lemah tanpa daya.''

Ketika Jepang bertekuk lutut, yang mendengar kekalahan itu antara lain Sutan Sjahrir. Ia dikenal sebagai tokoh anti-Jepang yang bekerja di bawah tanah dan selalu mendengarkan siaran radio gelap. Pemuda Minang bertubuh kecil ini kemudian menyebarkan berita kekalahan Jepang itu kepada para pemuda. Para pemuda pun mendesak Bung Karno agar segera memproklamasikan kemerdekaan, bahkan kemudian menculiknya bersama Bung Hatta dan Ibu Fatmawati ke Rengasdengklok, kota kecamatan di Karawang, Jawa Barat.

Bung Karno rupanya tidak pernah melupakan 'penghinaan' Sjahrir ini. Dalam biografinya seperti dituturkan pada Cindy Adams, Bung Karno mengatakan, ''Sjahrir-lah orang yang menyala-nyalakan api para pemuda. Dia tertawa mengejekku dengan diam-diam dan tidak pernah di hadapanku. Soekarno itu gila... Soekarno kejepang-jepangan... Soekarno pengecut....''

AM Hanafi, tokoh Angkatan '45 dan mantan dubes RI di Kuba, dalam buku Menteng 31 menulis, ''Tanggal 14 Agustus 1945 pukul 15.00 beberapa pemuda radikal berkumpul di sebuah pekarangan yang banyak pohon pisangnya, tidak jauh dari lapangan terbang Kemayoran. Mereka adalah Chaerul Saleh, Asmara Hadi, AM Hanafi, Sudiro, dan SK Trimurti. Kami menantikan kedatangan Bung Karno dan Bung Hatta dari Saigon. Kami pikir keduanya diiming-imingi Jepang dengan janji kemerdekaan kelak di kemudian hari. Janji yang kami anggap menghina bangsa Indonesia. Kami para pemuda tidak mau kemerdekaan hadiah.''

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta hendak masuk mobilnya, Chaerul Saleh menghampiri mereka, dan berkata, ''Proklamirkan kemerdekaan sekarang juga.'' Bung Karno yang tidak senang didesak mengatakan, ''Kita tidak bisa bicara soal itu di sini. Lihat itu, Kempetai mengawasi kita.'' Lalu ia masuk ke mobil di mana Hatta sudah berada di dalamnya.

Jakarta kala itu sangat tegang. Golongan tua termasuk Bung Karno dan Bung Hatta berpendapat sebaiknya kemerdekaan dicapai tanpa pertumpahan darah. Ini dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak Jepang. Sebaliknya kelompok pemuda sudah tidak sabar lagi. Kemerdekaan harus segera diproklamasikan tanpa bantuan dan melibatkan bangsa asing mana pun.

Pada 15 Agustus 1945 pukul 20.00, di salah ruangan Lembaga Bakteriologi, di Pegangsaan Timur 17 (sekarang Fakultas Kesehatan Masyarakat UI), para pemuda dan mahasiswa mengadakan pertemuan di bawah pimpinan Chaerul Saleh. Hasilnya, pukul 23.00 mereka mengutus Wikana dan Darwis mendatangi Bung Karno dan mendesak agar esok hari (16/8) memproklamasikan kemerdekaan. Bung Karno menolak. Alasannya ia dan Bung Hatta tidak ingin meninggalkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Apalagi PPKI esoknya akan rapat di Jakarta.

Mendengar penolakan itu, Wikana mengancam, ''Kalau Bung Karno tidak mau mengumumkan proklamasi, esok akan terjadi pertumpahan darah di Jakarta.'' Bung Karno pun naik pitam, ''Ini batang leherku. Potonglah leherku malam ini juga.'' Wikana terkejut melihat kemarahan Bung Karno itu.

Ancaman para pemuda rupanya bukan omong kosong. Pada 16 Agustus 1945 pukul 04.00, setelah sahur, mereka menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Di sini sekali lagi para pemuda di bawah pimpinan Sukarni gagal memaksa keduanya untuk memproklamasikan kemerdekaan.

'Perdebatan' kelompok muda dan tua terjadi kembali pada menit-menit menjelang proklamasi. Meski proklamasi diputuskan akan dibacakan pukul 10.00 di kediaman Bung Karno, para pemuda tetap gelisah. Mereka khawatir tentara Jepang akan menggagalkannya. Mereka mendesak Bung Karno segera membacakannya tanpa menunggu Bung Hatta.

''Saya tidak akan membacakan teks proklamasi kalau Bung Hatta tidak ada. Jika Mas Muwardi tidak mau menunggu, silakan baca sendiri,'' kata Bung Karno dengan lantang. Tak lama kemudian terdengar teriakan, ''Bung Hatta datang... Bung Hatta datang....'' Tepat pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan RI pun diproklamasikan. (RioL)
Menjelang Proklamasi di Kediaman Bung Karno Oleh Alwi Shahab
Pada 15 Agustus 1945, Jepang bertekuk lutut pada Angkatan Perang Sekutu. Hari itu suasana kota Jakarta tegang akibat desas-desus penyerahan Jepang. Bung Karno dan Bung Hatta yang baru pulang dari Saigon menemui Jenderal Besar Terauchi, Panglima Tertinggi Pasukan Jepang di Asia Tenggara, berusaha untuk mencari keterangan dari Gunseikun (Kepala Pemerintahan Pendudukan Jepang). Tapi, usaha kedua tokoh nasional ini sia-sia. Para perwira militer Jepang tutup mulut. Termasuk Laksamana Maeda, penghubung AL Jepang di Indonesia, yang didatangi Bung Karno, Hatta, dan Mr Achmad Subardjo.



Sejumlah pemuda dan mahasiswa yang mengetahui kekalahan Jepang ini meneruskan kepada lainnya dengan bisik-bisik. Mereka pun bersiap-siap agar proklamasi kemerdekaan dilaksanakan pada hari itu juga. Menjelang larut malam, Mr Achmad Subardjo dalam perjalanan dari kediamannya di Cikini menuju kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi), lebih dulu mampir di kediaman Bung Hatta di Jl Diponegoro. Ia mengajak Hatta yang tengah sibuk mempersiapkan rapat Badan Persiapan Kemerdekaan RI keesokan harinya (16 Agustus) turut serta ke kediaman Bung Karno.

Keduanya tiba di kediaman Bung Karno pukul sebelas malam. Bung Karno sedang duduk dikelilingi para pemuda. Suasananya sangat tegang karena emosi kedua belah pihak dalam suhu yang panas. ''Sewaktu kami memasuki ruang duduk tampak jelas kelegaan Sukarno atas kedatangan kami. Kehadiran kami rupanya memberi pengaruh yang menenangkan, karena Sukarno telah menguasai kembali gejolak emosinya. Sukarno menceritakan kepada kami bahwa para pemuda tersebut telah datang untuk mendesaknya mengambil tindakan dalam hubungan proklamasi kemerdekaan,'' tulis Achmad Subardjo yang usianya lima tahun lebih tua dari Bung Karno dan enam tahun diatas Bung Hatta.

Wikana dan Darwis mewakili kelompok muda yang dipimpin Chaerul Saleh dan Sukarni ini datang ke kediaman Bung Karno pukul sepuluh malam. Para pemuda ini mendesak agar proklamasi dilaksanakan malam itu juga. Bung Karno menyatakan bahwa ia tidak bisa memutuskan hal ini sebelum membicarakannya dengan teman-teman lain. Apalagi pada 16 Agustus 1945 BPUPKI akan bersidang.

Bung Karno kemudian mengemukakan pendapat Bung Hatta bahwa mereka berdua tidak akan membiarkan diri mereka digagahi atau digertak. ''Jika kalian siap menyatakan sendiri kemerdekaan cobalah! Saya ingin tahu kesanggupan kalian.'' Hal ini dijawab para pemuda, ''Jika ini pendapat Bung, silahkan! Kami para pemuda tidak dapat membenarkan penundaan proklamasi lewat siang atau besok. Kami para pemuda akan mengambil tindakan-tindakan dan membuktikan kesanggupan kami seperti Bung kehendaki.''

Wikana seperti dituturkan Achmad Subardjo tetap mendesak agar Bung Karno mengumumkan Indonesia telah bebas dari cengkeraman Jepang melalui stasiun radio malam itu juga. ''Sesuatu yang tidak mungkin karena stasiun radio masih dikuasai balatentara Jepang yang memiliki persenjataan lengkap,'' tulis Subardjo.

Karena Bung Karno tetap menolak, Wikana pun mengancam. ''Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman malam ini juga akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari.'' Mendengar ancaman ini Bung Karno naik darah. Ia berdiri menuju Wikana dan memuntahkan kata-kata. ''Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga. Kamu tidak usah menunggu esok hari.''

Subardjo mengaku sepakat dengan Bung Karno. ''Saya secara diam-diam setuju dengan pendapatnya karena bagaimana mungkin kami meninggalkan para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan yang akan bersidang hari esoknya di Pejambon (kini Gedung Pancasila),'' tulis Subardjo.

Laki-laki kelahiran Karawang Maret 1896 ini pun hanya berdiam diri dan mendengarkan Hatta memperingatkan Wikana. ''Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika Saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa Saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan, mengapa Saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri? Mengapa meminta Sukarno untuk melakukan hal itu?'' kata Hatta. Para pemuda yang kecewa berat meninggalkan kediaman Bung Karno pukul 11.30 malam.

Rupanya ancaman mereka bukan gertak sambal. Keesokan harinya saat sahur, Bung Karno dan Bung Hatta diculik dan dibawa ke Rengasdenglok, sekitar 60 km timur Jakarta. Achmad Subardjo, Menlu pertama RI, ini baru mengetahuinya keesokan harinya (16/8/1945) pukul delapan pagi. Ia menjadi gelisah karena pada pukul sepuluh pagi akan ada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Hatta menjadi ketua dan wakil ketuanya.

Pencarian Bung Karno dan Bung Hatta pun dilakukan. Baru menjelang sore para pemuda melalui Wikana menyatakan bahwa mereka menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdenglok. ''Penculikan ini karena khawatir bahwa keduanya akan dibunuh oleh tentara Jepang dan paling sedikit digunakan sebagai sandera,'' papar Wikana. Dengan mobil Skoda tua pada pukul empat sore, Subardjo cs menuju Rengasenglok dan tiba di sana malam hari.

''Apakah Jepang sudah menyerah?'' tanya Bung Karno. ''Saya kemari untuk memberitahukannya,'' jawab Ahmad Subardjo yang baru mengetahuinya menjelang siang dari Laksamana Maeda. Dan pada malam itu juga disusunlah naskah proklamasi oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo dalam rapat yang berlangsung pada pukul empat dinihari di Jl Imam Bonjol 1, Jakarta Pusat. Keesokan paginya pukul sepuluh Bung Karno membacakan naskah proklamasi itu. (RioL)

( Alwi Shahab )
Rumah Bung Karno Oleh Alwi Shahab
Sejarah Indonesia terasa hambar. Bahkan bongkar pasang. Buktinya, banyak peninggalan sejarah telah dibongkar dan dihancurkan. Tidak terkecuali rumah kediaman Bung Karno. Padahal, rumah di Jl Proklamasi (dulu Jl Pegangsaan Timur) 56, Jakarta memiliki nilai sejarah paling monumental. Dari tempat ini pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi diproklamirkan kemerdekaan RI.

Kini, rumah yang bagian mukanya dibangun patung Proklamator Sukarno - Hatta, dijadwalkan akan dibangun kembali sesuai bentuk aslinya. ”Agar nilai sejarahnya lebih berbobot, pembangunan kembali rumah Bung Karno sebaiknya dilakukan ditempat semula,” kata drs Nurhadi, seorang staf pada Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta. Tanpa harus menggusur Tugu Proklamator, masih terdapat cukup luas pekarangan, di gedung yang sekarang bernama Perintis Kemerdekaan.

Ali Sadikin, ketika membuka seminar: ”Potensi Ekonomi Pelestarian Kawasan dan Bangunan Tempo Doeloe” pekan lalu ikut mendorong dibangunnya kembali kediaman Bung Karno. Bahkan, mantan gubernur DKI itu mengimbau masyarakat dan LSM untuk juga ikut mendorongnya. ”Belum terlambat untuk membangun kembali rumah Bung Karno,” katanya.

Sebetulnya, keinginan untuk membangun kembali rumah yang 55 tahun lalu dijadikan tempat proklamasi kemerdekaan RI sudah tercetus sejak lama.

Seperti dikemukakan Ali Sadikin, sejak menjadi gubernur DKI ia sudah berencana membangunnya kembali. ”Bahkan saya telah menyiapkan dananya. Tapi, Pak Harto tidak setuju karena akan membangun patung proklamator,” kata Bang Ali.

Agar pembangunan kembali rumah Bung Karno dapat dipertanggungjawabkan terhadap keabsahan sejarah, pihak Dinas Museum dan Pemugaran DKI, kata Nurhadi, tengah meneliti kembali bentuk rumah saat masih didiami presiden pertama RI. Seperti jumlah dan letak kamar, jenis perabot yang digunakan, tempat tidur Bung Karno dan keluarga. Di antara putera-puteri Bung Karno, hanya si sulung Guntur yang dilahirkan di tempat ini.

Rumah ini dibongkar masa pemerintahan Bung Karno. Ada yang mengatakan ia tidak mau diingatkan kembali pada keadaan yang tidak menyenangkan, saat-saat menjelang proklamasi kemerdekaan. Seperti saat ia beberapa kali didesak para pemuda radikal yang mengancamnya agar memproklamirkan kemerdekaan lebih awal.

Tentu saja, Bung Karno, sesuai dengan wataknya tidak pernah mau dipaksa-paksa kelompok muda, seperti Sukarni, Chaerul Saleh dan Wikana. Alasannya, waktu itu Jepang masih kuat dan memiliki senjata, yang tidak dimiliki para pemuda.

Dalam buku ”Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” nya Cindy Adams, Bung Karno mengatakan: ”Kalau engkau, pemuda, hendak mengadakan pertumpahan darah yang sia-sia, cobalah tanpa saya.” Sementara dibelakang terdengar tangis Guntur dibujuk oleh Fatmawati. Menggambarkan betapa ‘panasnya’ pertemuan ini.

Pada 15 Agustus 1945, para pemuda yang telah mendengar Jepang menyerah, kembali mendatanginya diberanda rumah ini. ”Sekarang Bung, malam ini juga,” kata Chaerul Saleh. ”Kita kobarkan revolusi yang meluas malam ini juga. Dengan satu isyarat Bung Karno seluruh Jakarta akan terbakar. Ribuan pasukan bersenjata sudah siap sedia menyingkirkan seluruh tentara Jepang.”

Sukarni dan sejumlah pemuda lainnya juga bersuara lantang. Karena Bung Karno tetap tidak mau meladeni desakannya, seorang pemuda dengan suara rendah mengatakan: ”Barangkali Bung Besar kita takut. Barangkali dia menunggu perintah dari Tenno Heika.” (Kaisar Jepang-penulis).

Wikana mengikuti ejekan ini. ”Dia coba menggertakku. Revolusi berada ditangan kami sekarang dan kami memerintah Bung. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu …..”. ”Lalu apa?” teriakku sambil meloncat dari kursi dengan kemarahan menyala-nyala. Jangan aku diancam. Ini kudukku. Boleh potong hayo.”

Keesokan harinya (16/8-1945), sekitar pukul 04.00 saat sahur (waktu itu bulan puasa), para pemuda dipimpin Sukarni menculik Sukarno dan Hatta. Bersama Fatmawati dan Guntur yang masih bayi, mereka dibawa ke Rengasdenglok, Karawang (75 km arah timur Jakarta). Keduanya kembali menolak desakan para pemuda untuk memproklamirkan kemerdekaan di tempat ini. Baru kembali ke Jakarta malam hari, mereka langsung merumuskan naskah proklamasi di Jl Imam Bonjol (Nassau Boulevard), rumah Laksamana Maeda, panglima AL Jepang di Indonesia hingga pukul 04.00 pagi.

Mulanya, proklamasi kemerdekaan akan dibacakan di Lapangan Ikada (Monas). Tapi, demi menghindarkan bentrokan dengan tentara Jepang ditetapkan di kediaman Bung Karno. Pagi hari (17 Agustus 1945), sekitar 09.00 pagi kira-kira 500 orang berdiri di depan beranda rumah ini.

”Sekarang Bung, sekarang. Rakyat berteriak.” Tapi Bung Karno tidak mau, karena Hatta tidak ada. Ketika didesak dr Muwardi, komandan Barisan Pelopor, Bung Karno mengatakan: ”Saya tidak mau membacakan teks proklamasi bila Hatta tidak ada. Jikalau Mas Muwardi tidak mau menunggu silahkan baca sendiri.” Hatta tiba lima menit sebelum pembacaan proklamasi.

Masih banyak peristiwa penting terjadi di tempat ini. Seperti saat ia bersama Bung Hatta memimpin sidang kabinet RI pertama, hanya beberapa hari setelah proklamasi.

http://alwishahab.wordpress.com/2000/07/30/rumah-bung-karno/
Laksamana Maeda Oleh Alwi Shahab
Kesibukan luar biasa tampak di sebuah rumah berlantai dua di Jl Teji Meijidori No 1. Terlihat puluhan pemuda bergerombol, ada yang duduk-duduk di teras rumah tersebut. Ada pula yang duduk-duduk di rumput pekarangan sambil mengobrol. Mereka menampakkan wajah yang serius, tanpa memperdulikan sengatan angin dingin pada dini hari menjelang subuh. Para pemuda ini dengan sabar tengah menunggu apa yang akan diputuskan oleh para pimpinan mereka di lantai satu rumah tersebut.

Peristiwa diatas bukan terjadi di Jepang. Tapi di Jakarta. Yang disebut Jl Teji Meijidori No. 1 (kini Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat), adalah kediaman Laksamana Tadashi Maeda, panglima AL Jepang di Indonesia. Di kediaman petinggi militer Jepang inilah, Bung Karno, Bung Hatta, dan para tokoh pergerakan kemerdekaan, tengah menyusun teks proklamasi. Mereka seolah-olah bergelut dengan waktu, karena teks proklamasi itu akan dibacakan pagi harinya, 17 Agustus 1945. Detik-detik menjelang proklamasi itu, memang menegangkan bagi para pemuda itu.

Pada 14 Agustus petang, Syahrir memberitahukan kepada Bung Karno dan Hatta, yang bersama dengan dr Radjiman Wedyodiningrat baru pulang dari Dallath, Vietnam memenuhi undangan Panglima Tertinggi Tentara Jepang di Asia Tenggara. Pemberitahuan itu tentang kekalahan Jepang dari Sekutu. Tak ada yang tahu berita ini, kendati kekalahan Jepang itu sudah terjadi pada 6 Agustus 1945, ketika bom atom pertama membakar Hiroshima. Sebanyak 70 ribu dari 350 ribu penduduk Hiroshima, tewas. Jepang kian takluk ketika bom atom kedua dijatuhkan ke kota Nagasaki, menewaskan 75 ribu penduduknya.

Kekalahan ini sangat dirahasiakan di Indonesia. Waktu itu rakyat hanya boleh mendengar berita-berita yang bersumber dari Jepang yang kebanyakan berisi propaganda. Semua radio disegel dan mereka yang mendengar siaran luar negeri dianggap 'mata-mata musuh' dan bisa dihukum mati. Ditengah-tengah ancaman ini, ada gerakan dibawah tanah dipimpin Sutan Syahrir yang mendengar kekalahan Jepang.

Setelah dicek kepada Laksamana Maeda di kantornya di Merdeka Timur (Direktorat Jenderal Perhubungan Laut), petinggi Jepang ini membenarkan berita tersebut. Namun ia menegaskan belum menerima kabar langsung dari Tokio. Bung Karno yang menginginkan agar proklamasi kemerdekaan diputuskan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), menolak usulan para pemuda revolusioner yang mendatangi kediamannya di Jl Proklmasi 57, pada 15 Agustus pukul 22.00.

Para pemuda yang diwakili oleh Wikana dan Darwis, meminta agar kemerdekaan diproklamasikan malam itu juga. Wikana dengan nada mengancam mengatakan, bila Bung Karno enggan memaklumkan kemerdekaan malam ini juga, niscaya akan meletus pertempuran keesokan harinya. Mendengar omongan ini, memicu kemarahan Bung Karno. "Apakah saudara sudah siap betul-betul melancarkan suatu revolusi? Kalau gagal, bagaimana ? Bukankah rakyat nanti menjadi korban?" Bung Karno menghardik Wikana. Nyali Wikana tak surut menerima sergahan. "Rakyat siap berontak. Pemuda yang akan memimpin pemberontakan rakyat," kata Wikana memotong tajam ucapan Bung Karno.

Kelancangan Wikana ini mengobarkan api kemarahan Bung Karno. Bangkit dari tempat duduknya, halilintar kemarahan pun memecah keheningan ruangan : "Biar digorok leherku, aku tidak akan memproklamirkan kemerdekaan malam ini, besok atau kapan saja. Kamu jangan coba-coba mengancam aku, ya!" Bung Karno menghardik Wikana.

Setelah Wikana dan Darwis melaporkan kepada para pemuda hasil pertemuannya di kediaman Bung Karno, maka Kamis 16 Agustus pukul 04.00 Bung Karno dan Bung Hatta diungsikan ke Rengasdenglok, Karawang, Jabar. Mr Achmad Subardjo menjemput keduanya untuk kembali ke Jakarta. Mereka tiba di kediaman masing-masing pukul 23.00. Bung Karno mengantar Ibu Fatmawati dan Guntur yang masih bayi, dan kemudian menuju ke kediaman Laksamana Maeda.

Demikian juga Bung Hatta. Di rumah perwira tinggi AL Jepang ini sudah banyak orang berkumpul, termasuk para anggota PPKI. Bung Karno dan Bung Hatta diantar Laksamana Maeda menemui Mayor Jenderal Nishimura. Maksudnya, untuk mengetahui sikap perwira tinggi AD Jepang tentang pengumuman proklamasi. Pati AD Jepang itu berpendirian sesuai dengan peraturan internasional bahwa setelah menyerah pada Sekutu, tentara Jepang harus memelihara status quo. Tidak boleh mengadakan perubahan apa-apa. Akhirnya, Bung Karno dan Bung Hatta mengambil kesimpulan tidak perlu lagi mengadakan pembicaraan dengan pihak Jepang.

Mereka kembali ke rumah Laksamana Maeda. Jam menunjukkan 17 Agustus pukul 02.00. Maka disusunlah teks proklamasi. Rumusan itu ditulis di atas kertas buku catatan bergaris biru, dari seorang hadirin. Rampung, Bung Karno meminta persetujuan yang hadir. Gemuruh suara menyatakan setuju. Teks proklamasi kemudian diketik Sayuti Melik, di dekat dapur kediaman Laksamana Maeda. Rapat berakhir pukul 04.00. Dan pukul 10.00 pagi pun Indonesia sudah merdeka.
(RioL)
Pembodohan dan Pemalsuan Sejarah di Lokasi Proklamasi Oleh: M Sjafe’i Hassanbasari
"Di mana letaknya tempat yang disebut ’Gedung Proklamasi’?" Pertanyaan yang sederhana mengenai tempat kelahiran negara Indonesia, tetapi jawaban yang muncul banyak mengarah kepada "tidak tahu". Sesungguhnya, jawaban "tidak tahu" jauh lebih baik daripada percaya kepada informasi yang sekarang terdapat di lokasi ini. Sangat menyedihkan, apa yang dimasyarakatkan oleh Pemprov DKI Jakarta mengenai "Gedung Proklamasi" kenyataannya mengandung pembodohan dan manipulasi data sejarah. Mengapa demikian?


Rumah Sukarno : Jalan Proklamasi no. 56

Kediaman Bung Karno inilah yang dulu disebut "Gedung Proklamasi", karena di tempat ini proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ir Soekarno dan Drs Moh Hatta hari Jumat legi (manis) tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi. Proklamasi kemerdekaan itu bertepatan dengan peringatan turunnya Al Quran (Nuzulul Quran, sehingga khotbah para khatib shalat Jumat pun menginformasikan peristiwa penting tentang kelahiran bangsa dan negara Indonesia).

Sayang seribu kali sayang, rumah historis ini musnah sudah sejak tahun 1960 (43 tahun lalu). Kecuali lahan, tidak sedikit pun bangunan tersisa. Tidak ada lagi peninggalan sejarah kemerdekaan yang dapat dijadikan kenangan bagi generasi penerus. Tidak ada informasi yang natural, normatif, orisinal, sesuai hakikat peristiwa yang terjadi di kediaman Bung Karno ini.

Ceritanya, tahun 1960 Bung Karno menyetujui usul Wakil Gubernur Daerah Chusus Jakarta (DCI) Henk Ngantung agar rumah tersebut direnovasi. Waktu itu Presiden Soekarno sudah bermukim di Istana Negara. Ternyata, renovasi tidak terealisasi.

Di lokasi ini Presiden Soekarno pada tanggal 1 Januari 1961 melakukan pencangkulan pertama tanah untuk pembangunan tugu, "Tugu Petir", yang kemudian disebut tugu proklamasi. Tugu ini berbentuk bulatan tinggi berkepala lambang petir, seperti lambang Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tulisan yang kemudian dicantumkan, "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar